Apresiasi Enam Tahun Eksistensi Ponpes Dea Malela, IKA Unram "Siap" Berkolaborasi -->

Apresiasi Enam Tahun Eksistensi Ponpes Dea Malela, IKA Unram "Siap" Berkolaborasi

Jumat, 24 Juni 2022, Jumat, Juni 24, 2022

 

FOTO. Ketua PP IKA Unram,  Hj. Baiq Isvie Rupaeda bersama para pengurus PP IKA Unram saat bersilaturahmi ke Ponpes Modern Internasional Dea Malela di Sumbawa. 




MATARAM, BL - Pengurus Pusat (PP) Ikatan Alumni Universitas Mataram (IKA Unram) mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Internasional Dea Malela di  Pemangong, Kecamatan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, Kamis (23/6).


Kunjungan tersebut sebagai bentuk perhatian dan dukungan IKA Unram atas enam tahun berdirinya ponpes yang didirikan mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin tersebut.


Terlebih, ponpes tersebut merupakan, satu-satunya yayasan bertaraf internasional yang ada di Provinsi NTB.


"Wajarlah kami suport dan bantu pengembangan Ponpes Modern Internasional Dea Malela. Ini karena keberadaannya telah mampu berkontribusi dalam membantu pertumbuhan dunia pendidikan di NTB," ujar Ketua PP IKA Unram, Hj. Baiq Isvie Rupaeda dihadapan  pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Dea Malela, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin. 


Menurut Ketua DPRD NTB itu, bantuan yang akan diberikan dalam rangka pengembangannya, yakni pembangunan gedungnya. Tentunya, melalui Dana Pokir DPRD NTB. "Insya Allah, nanti kita usahakan bawa kesini. Semoga adanya bantuan itu, akan membantu eksistensi Ponpes Dea Malela," tegas Isvie. 


Sejauh ini,  Yayasan Dea Malela, mampu menjadi ikon pengembangan ponpes internasional di Indonesia. Apalagi, dalam metode pembelajarannya telah mampu mengkolaborasikan dengan pendidikan di dunia Internasional. 


Sementara itu, Pengasuh Ponpes Dea Malela, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin menyambut baik kedatangan rombongan PP IKA Unram tersebut.  


Sambil berdiskusi, Prof Din, sapaan karibnya, menceritakan spirit awal pendirian yayasan Dea Malela. Yakni, ide awal itu tidak lain, berangkat dari pengalamanya mengunjungi sekolah-sekolah islam di berbagai belahan dunia. 


Untuk itu, dari pengalamanya itu, terbesit cita-cita dan keinginan untuk mendirikan yayasan Dea Malela di Kampung terpencil Kabupaten Sumbawa, Pulau Sumbawa.


"Saya punya cita-cita dari dulu ingin mendirikan pesantren. Dan Alhamdulillah sekarang sudah kesampaian. Memang, saya tidak punya modal untuk membangun gedung sebesar ini. Tetapi berkat bantuan dan jaringan yang saya miliki akhirnya Dea Malela di dirikan," ujarnya. 


Prof Din Syamsuddin menegaskan, bahwa ia sangat menaruh perhatian serius pada perkembangan dunia islam belakangan ini. Apalagi, starting dunia pendidikan Islam, kalah star dengan yang lainnya. 


Untuk itu, lanjut dia, penguatan pembelajaran keagamaan dan pembaharuan pendidikan Islam, harus menjadi solusi, dalam rangka menghadapi ketertinggalan dunia Islam.


"Hanya, dengan penguatan kualitas pendidikan melalui Ponpes. Maka,  peradaban dunia Islam akan menyaingi peradaban lain dan tidak akan mengalami keterbelakangan,"tegas Prof Din Syamsuddin.


Dalam kesempatan itu. Prof Din berharap, Ketua IKA Unram yang juga adalah Ketua DPRD NTB, selain dapat membantu pengembangan gedung  di ponpesnya. Hal lainnya, terkait  pembukaan jalan pintas  atau jalan pemotong menuju Pesantren Dea Malela dapat menjadi periotas.


Sebab, kata dia,  sebelumnya anggaran untuk adanya akses jalan pintas itu, sudah pernah diusulkan pihaknya. Namun masih menunggu respon dari Pemprov untuk menindaklanjuti.


"Semoga dengan kekuasaan ibu Ketua DPRD NTB, kami  dapat dibantu untuk menyuarakan soal akses jalan ini. Apalagi, kami punya target akan membangun adanya kampus bertaraf internasional dalam waktu dekat ini.  Sehingga dengan adanya jalan pemotong itu bisa mempermudah akses masyarakat masuk ke ponpes ini," tandas Prof Din Syamsuddin. 


Diketahui, nama Dea Malela dipilih, adalah  bentuk penghormatan Prof Din Syamsuddin kepada Imam Ismail Dea Malela—seorang ulama besar kelahiran Gowa Makassar yang hijrah di Desa Pemangong, Kecamatan Lenangguar untuk mengembangkan syiar agama Islam di Tana Samawa. 


Upaya ini bukan untuk mengkultuskan seseorang melainkan mengambil inspirasi dan semangat dari tokoh Islam yang tidak banyak orang mengetahuinya. 


Sedangkan, Dea Malela ditangkap Kolonial Belanda dan dibuang ke Afrika Selatan. Di negara yang sangat asing baginya, Dea Malela mampu menjadi tokoh dan ulama besar. (R/L..).

TerPopuler