Kisah Petani Organik Sukses Tingkatkan Panen 10 Ton Perhektarnya di Sekitar Pertambangan AMMAN -->

Kisah Petani Organik Sukses Tingkatkan Panen 10 Ton Perhektarnya di Sekitar Pertambangan AMMAN

Rabu, 16 September 2026, Rabu, September 16, 2026

 

FOTO. Hamzah, petani penggagas pertanian organik Maluk yang juga menjabat Ketua Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk saat menunjukkan hasil padi yang dikembangkannya. 



























MATARAM, BL  - Apabila mendengar kata organik, yang terbenak dalam pikiran adalah beras yang dibudidayakan tanpa menggunakan bahan kimia sintetis. Namun di perbukitan sekitar areal pertambangan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), tepatnya di Desa  Maluk, Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), ada sosok pemuda yang sukses menekuni pertanian organik.


Pemuda tersebut adalah Hamzah (28), yang merupakan salah satu lulusan perguruan tinggi di Kota Mataram. Menariknya, dalam menjalankan usaha yang ditekuninya, dia tidak sendiri. Hamzah mempunyai kelompok tani yang diberi nama Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk atau beras organik Maluk. 


Menurutnya, sejak awal merintis pembudidayaan beras organik. Hamzah banyak menghadapi tantangan. Mengingat, selama bertahun-tahun, areal pertanian yang berada di lembah perbukitan Kecamatan Maluk, tepatnya  Desa Benete dan Desa Maluk, dipaksa berproduksi dengan obat-obatan dan zat kimia. 


Hal ini yang menyulitkannya. Sebab, tingkat keasaman lahan tinggi, biaya produksi tinggi, namun hasil tetap stagnan. 


Namun dengan keberadaan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bersama Aliksa Organik yang mengembangkan metode System of Rice Intensification (SRI), produktivitas areal pertanian meningkat signifikan mencapai 10,02 ton per hektar.


Padahal, sebelumnya hanya mampu berproduksi rata-rata berkisar 4-5 ton per hektarnya. 


"Sejak dua tahun saya fokus mengembangkan metode System of Rice Intensification (SRI) Organik, disitu saya diajarkan prinsip Pertanian Sehat, Ramah Lingkungan, dan Berkelanjutan (PSRLB). Hasilnya  melimpah. Produksi yang biasanya 4-5 ton per hektarnya. Kini, naik hingga kisaran 10,02 ton per hektar," ujarnya pada BERITA LOMBOK, Sabtu 12 September 2026.


Hamzah menegaskan, efek pembudidayaan pertanian metode SRI ini, membuat petani  berhenti “membeli” kesuburan dan mulai “menciptakannya” sendiri. 


Di mana, limbah jerami, kotoran ternak, hingga tanaman hijau yang dulunya dianggap sampah, kini diolah menjadi Mikroorganisme Lokal (MOL) dan pupuk kompos berkualitas tinggi.


"Sistem pertanian metode SRI ini, membuat kesuburan tanah kian meningkat. Ini karena sifat fisik, kimia, dan biologi tanah secara alami berubah. Yang utama, sistem ini, juga mengurangi risiko pencemaran air dan tanah akibat zat kimia sintetis," tegasnya. 


Hamzah mengaku, kehidupan serangga, burung, dan mikroorganisme penyerbuk di sekitar lahan mulai terlihat. Sehingga, memicu tumbuh kembangnya tanaman padi yang berat merunduk menandakan produktivitas yang melesat. 


Tentunya, kondisi ini berubah drastis dibandingkan pola konvensional yang biasanya.


"Dan, terpenting produk pangan bebas dari residu pestisida dan bahan kimia berbahaya. Dan untuk petani, dengan pola penanaman organik, juga menghindari risiko paparan bahan kimia beracun saat merawat tanaman," katanya.


Lebih lanjut dikatakan Hamzah, adanya pendampingan yang dilakukan PT AMMAN   bersama Aliksa Organik hingga Dinas Pertanian KSB. Kini, masyarakat yamg awalnya ragu akan manfaat pupuk organik, justru mulai berpindah meninggalkan pupuk dan pestisida kimia untuk merawat areal sawah mereka. 


Apalagi, penyakit yang kerap dikeluhkan petani saat masa tanam, yakni harga pupuk yang mahal. Kini, sudah tidak ada lagi keluhan, lantaran pupuk bisa diolah sendiri. Sehingga, banyak menghemat biaya produksi. 


"Jika dua tahun lalu, saya diketawain memulai merintis pertanian organik. Tapi begitu melihat hasil pertanian kelompok saya meningkat. Kini, sejak setahun lalu, petani Desa Benete yang berada tidak jauh, juga ikut-ikutan melakukan pola yang kami terapkan," ucapnya..



Hamzah menuturkan dengan pendampingan sekolah lapangan yang dilakukan. Umumnya, para petani di wilayah Kecamatan Maluk, sudah tahu cara pembudidayaan yang efektif dan efisien. Sebab, petani diajak kembali mencintai tanah.


"Alhamdulillah, dengan kita belajar meracik vitamin sendiri dari apa yang ada di sekitar rumah. Hasilnya? Lihat sendiri, tanah kami yang dulu keras sekarang jadi gembur dan hitam. Hasil panen naik sekitar dua kali lipat, dan yang paling penting, kami tidak lagi pusing memikirkan biaya pupuk yang mahal. Kami sekarang merasa benar-benar menjadi tuan di sawah sendiri,” jelas Hamzah.


FOTO. Vice President Social Impact AMMAN, Priyo Pramono saat bersama Bupati KSB dan patani dua desa di Kecamatan Maluk yang melakukan panen raya padi organik melalu sistem SRI. 


Sementara itu, Vice President Social Impact AMMAN, Priyo Pramono, mengadakan program SRI Organik di Kecamatan Maluk, merupakan upaya pihaknya mendukung masyarakat petani Kecamatan Maluk memiliki kapasitas teknis dan kelembagaan yang kuat. 


Menurutnya, dalam pola SRI yang difokuskan yakni, kemampuan menekan biaya produksi hingga mendapatkan hasil pertanian atau produktivitas yang lebih besar. 


"Kami berharap program ini dapat memberikan pengetahuan baru mengenai pertanian organik dan dapat diperluas jangkauan dan capaiannya kedepan,” kata Priyo. 




*Sinergi Menuju Kedaulatan Hijau


FOTO. Bupati Sumbawa Barat, Amar Nurmansyah bersama jajaran Forkopimda setempat saat melakukan panen raya beras organik petani Kecamatan Maluk. 
 



Keberhasilan di Desa Benete dan Desa Maluk ini hanyalah permulaan. Dengan terbentuknya Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk, para petani kini memiliki wadah untuk saling berbagi ilmu dan memperkuat posisi tawar mereka. 


Apalagi, Bumdes di Desa Maluk juga aktif terlibat. Hal ini juga berpotensi besar sebagai motor penggerak ekonomi baru di Sumbawa Barat. 


Terpisah, Bupati Sumbawa Barat, Amar Nurmansyah, mengatakan program Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk yang dibantu pendampingan oleh PT AMMAN bersama Aliksa Organik ini, menjadi contoh keberhasilan yang bisa menjadi tempat pembelajaran.


"Keberhasilan ini butuh proses. Para petani bisa menjadi duta petani organik Sumbawa Barat. Harapannya bisa diperluas di kawasan lain di KSB," ujarnya. 


Menurut Amar, dirinya terkagum melihat secara langsung  perbedaan dari konvensional dan organik. Bahkan dari kasat mata, bahwa organik jauh lebih baik. 


"Saya hadir langsung saat panen perdana petani di Kecamatan Maluk. Dan apa yang  saya saksikan bahwa inovasi dan kearifan lokal bisa berjalan beriringan. Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini dan berharap praktik baik di sini bisa direplikasi di desa-desa lain agar Sumbawa Barat menjadi pionir pertanian organik yang mandiri,” tegasnya. 


Amar mengingatkan bahwa pekerjaan rumah kedepan masih sangat banyak. Mulai dari sertifikasi beras organik, sayuran organik, sertifikasi MOL hingga pembukaan akses pasar. 


"Tapi panen perdana pada Mei 2026 lalu, dengan pembudidayaan yang mulai masif dilakukan di dua desa di Kecamatan Maluk pada Agustus 2025 lalu, tentu menjadi pesan kuat dari Kecamatan Maluk, bahwa tanah yang dirawat dengan ilmu dan kasih sayang akan membalas dengan kemakmuran yang melimpah. Selamat pada petani Kecamatan Maluk yang berada di sekitaran pertambangan PT AMMAN," tandas Amar Nurmansyah. (R/L..).

TerPopuler