![]() |
| FOTO Owner Sajang Coffee Sembalun Andi Suhandi |
Ketekunan dan konsistensi menjadi faktor penting dalam membangun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pelaku usaha dituntut mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persaingan pasar hingga fluktuasi harga bahan baku.
Menariknya, cerita kesuksesan dan kerja keras pelaku UMKM yang tangguh datang dari kemegahan Gunung Rinjani di Pulau Lombok yang menjadi gunung ketiga tertinggi di Indonesia.
FAHRUL MUSTOFA - MATARAM
ADALAH, Owner Sajang Coffee Sembalun Andi Suhandi dan pemilik kain tenun tradisional Sembahulun Handmade, Dwi Ariska yang mampu eksis dan bertahan mengembangkan usaha mereka diatas ketinggian 3.726 mdpl hingga kini.
Kegigihan keduanya layak diapresiasi. Itu menyusul, mereka memulai usahanya justru berasal dari bawah alias nol.
Bagi Andi dan Dwi, ketekunan dan kegigihan saja tidak cukup untuk mengembangkan usaha yang sedang dirintis. Mereka juga mengimbangi diri dengan kreatifitas. Hal ini, agar bisa memunculkan inovasi baru sehingga usaha yang sedang dirintis dapat terus berkembang.
Owner Sajang Coffee Sembalun, Andi Suhandi, mengatakan bahwa sejak tahun 2019 lalu, mulai fokus mengembangkan kopi lokal sekaligus menjadikannya bagian dari pengalaman wisata.
Menurutnya, cerita usaha itu, justru berawal dari lapak sederhana untuk memenuhi keinginan wisatawan menikmati kopi asli Sembalun.
Saat ini, usahanya kini berkembang menjadi coffee shop sekaligus produsen kopi kemasan yang dipasarkan ke berbagai daerah hingga mulai menjangkau pasar mancanegara.
Bagi Andi, secangkir kopi bukan sekadar minuman. Arabika dan Robusta Sembalun menjadi cara untuk memperkenalkan identitas, alam, dan kekayaan kawasan kaki Rinjani kepada wisatawan.
"Saya memulai itu, dengan membikin dari lapak kopi sederhana. Alhamdulillah sekarang berkembang cukup baik. Kopi asli Sembalun, baik Arabika maupun Robusta, memiliki aroma dan cita rasa yang diminati pencinta kopi. Itu yang membuat kami terpikir untuk mengembangkan usaha ini sebagai cara mempromosikan Sembalun dengan cara yang berbeda," ujarnya pada BERITA LOMBOK, Sabtu 22 Agustus 2026.
Andi menegaskan bahwa, melalui pengembangan Sajang Coffee, kopi tidak lagi sekadar komoditas yang dijual dalam bentuk hasil panen. Ada upaya memperbaiki proses pascapanen, meningkatkan nilai produk, memperluas pemasaran,.
Juga, sekaligus memperkenalkan cerita kopi Sembalun kepada konsumen. "Melalui produk kopi Sajang ini. Alhamdilillah, keindahan kawasan Sembalun dengan ketinggian Gunung Rinjani, kini kami mampu menjadi pintu untuk mengenalkan lebih jauh kehidupan petani dan potensi kawasan Sembalun pada wisatawan," tegas Andi.
![]() |
| FOTO. Dwi Ariska saat menenun kain Sembalun |
Sementara itu, pemilik kain tenun tradisional Sembahulun Handmade, Dwi Ariska mengaku, dirinya memilih menjaga warisan leluhur Sembalun melalui pengembangan kain tenun tradisional.
Baginya, kain bukan sekadar benda pakai, tetapi menyimpan identitas, sejarah dan filosofi kehidupan masyarakat.
"Kan, kalau dulu, perempuan yang tidak bisa menenun itu dilarang menikah. Istilahnya tidak laku, karena pakaian sehari-hari, sarung, dan selendang harus bikin sendiri," ujar Dwi.
Menurutnya, perjuangan menjaga tradisi leluhur tersebut, awalnya juga memiliki banyak tantangan. Salah satunya, yakni tantangan regenerasi.
Sebab, para penenun kini lebih banyak berasal dari generasi tua, sementara membuat satu kain membutuhkan ketekunan dan waktu yang tidak sebentar.
Dwi kemudian berusaha membuat tenun tetap relevan dengan zaman. Melalui Sembahulun Handmade, kain tradisional dikembangkan menjadi berbagai produk seperti tote bag, dompet, tas hingga aksesori yang lebih mudah diterima pasar.
Ia juga mempertahankan penggunaan pewarna alami, seperti kulit mahoni, kunyit, daun kersen dan kulit manggis.
"Kami warnai sendiri pakai pewarna alam. Ada yang dari kulit pohon mahoni, kunyit, daun kersen, sampai kulit manggis," tegas Dwi.
Dia mengatakan bahwa langkah membawa karya Sembahulun Handmade keluar dari Sembalun yang dilalui dengan penuh liku-liku selama ini. Kini, mulai membuahkan hasil. Yakni, produk tenun aseli Sembalun tersebut sudah mampu menjangkau pasar Australia
Bagi Dwi, pasar yang lebih luas penting, tetapi jauh lebih penting adalah memastikan keterampilan menenun tidak ikut hilang bersama generasi tua.
"Semoga ke depan kalau ada pelatihan dari pemerintah atau siapa pun, itu tepat sasaran dan sesuai kebutuhan. Kami butuhnya pelatihan dan alat tenun gedogan (tradisional), bukan ATBM," kata Dwi berharap.
Dia memastikan bahwa, dengan banyaknya wisatawan yang sudah mengenal kain tenun Sembalun, hal ini justru tidak lepas dari kegigihan untuk mempertahankan tradisi dengan tetap mempertahankan kualitasnya.
"Kami pastikan, sentuhan teknologi modern dengan pasar yang kini makin luas, kain tenun Sembalun kita pastikan aka tetap terus mempertahankan kehidupan maayarakat Sembalun dan Pulau Lombok," jelas Dwi.
Terpisah, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) sebagai perusahaan tambang tembaga yang beroperasi di Pulau Sumbawa, akan fokus menjalankan berbagai program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari komitmen sosial perusahaan.
Vice President Social Impact PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN), Priyo Pramono, mengatakan pengembangan masyarakat merupakan bagian penting dari keberlanjutan perusahaan.
"Kami percaya masyarakat lokal memiliki potensi besar untuk berkembang. Karena itu, pemberdayaan tidak hanya soal memberikan dukungan, tetapi bagaimana membangun kapasitas agar masyarakat mampu mengembangkan usahanya secara mandiri, memperkuat daya saing, dan membuka manfaat ekonomi yang lebih luas," ujarnya.
Menurut Priyo, keberhasilan pemberdayaan tidak hanya diukur dari kegiatan yang dilakukan, tetapi dari perubahan yang dirasakan masyarakat.
"Ketika masyarakat mampu mengembangkan usahanya secara mandiri, menciptakan peluang kerja, dan menjaga potensi lokal tetap hidup, maka manfaatnya akan tumbuh lebih luas bagi lingkungan sekitar," katanya.
Priyo menambahkan bahwa khusus di Pulau Lombok, sentuhan AMMAN hadir melalui program pembinaan dan pemberdayaan kepada pelaku UMKM.
Bentuknya tidak selalu berupa bantuan modal atau peralatan. Penguatan kapasitas justru menjadi bagian penting, mulai dari bagaimana mengelola administrasi usaha, mencatat keuangan, mengatur arus kas, meningkatkan kualitas produk, hingga melihat peluang pasar.
"Untuk Andi dan Mbak Dwi, keduanya adalah pelaku UMKM dari ketinggian Sembalun yang kita bantu pengembangan dan pendampingan usahanya. Dan kini, usaha yang mereka kelola berjalan sukses hingga mampu menembus pasar internasional," tandas Priyo Pramono. (**).

