Soal Pintu LRT 160 Cm, Fraksi PKS Minta Kemenhub Lakukan Perencanaan Matang -->

Soal Pintu LRT 160 Cm, Fraksi PKS Minta Kemenhub Lakukan Perencanaan Matang

Minggu, 17 Maret 2024, Minggu, Maret 17, 2024

 


FOTO. Suryadi Jaya Purnama (SJP).




 










MATARAM, BL - Banyak yang menyoroti terkait ukuran pintu dan kereta LRT Jabodebek yang dikeluhkan terlalu pendek.


Alasan dari PT. KAI dan Kemenhub, pintu tersebut didesain untuk  rata-rata tinggi badan orang Indonesia 160 cm. 


Oleh karena itu, Fraksi PKS DPR RI  mempertanyakan dasar perhitungan rata-rata tinggi badan 160 cm tersebut. 


"Ini karena data tersebut adalah dari penelitian yang dilakukan sembilan tahun yang lalu," tegas Anggota Fraksi PKS DPR, Suryadi Jaya Purnama (SJP) dalam siaran tertulisnya, Minggu 17 Maret 2024..


SJP menjelaskan bahwa berdasarkan studi yang dibuat Association of Southeast Asian Nations DNA pada 2014, pria di Indonesia memiliki tinggi badan rata-rata 160 cm.


Sedangkan, untuk wanita Indonesia, memiliki rata-rata tinggi badan 147 cm. Padahal jika mengacu pada data terbaru World Data, laki-laki di Indonesia memiliki tinggi badan rata-rata 166 cm. Sementara untuk wanita, memiliki rata-rata tinggi badan 154 cm. 


Data ini didasarkan pada ringkasan studi ilmiah yang dievaluasi dan diterbitkan oleh NCD Risk Factor Collaboration (NCD-RisC). 


Di mana, data diambil dari 1.200 penelitian yang dirangkum dari analisis pada tahun 2020. Juga merangkum lebih dari 2.100 penelitian dari tahun 1985 hingga 2019 dan dapat ditemukan di jurnal medis The Lancet.

 

"Kita menyesalkan PT.INKA sebagai pembuat kereta ataupun PT.KAI sebagai operator yang tidak mengadakan studi tersendiri untuk benar-benar memastikan hal tersebut, sehingga menyebabkan pembuatan pintu kereta yang terlalu pendek," ujar SJP.


Lebih lanjut dikatakannya, kesalahan tersebut juga disebabkan karena tidak adanya peran Pemerintah dalam hal ini Kemenhub yang seharusnya menyediakan standard perkeretaapian. 


Karena itu, lanjut SJP, pihaknya meminta pada Kemenhub, agar membuat kajian sendiri tentang data antropometri, yaitu ilmu tentang pengukuran tubuh manusia, digunakan untuk pembuatan desain furnitur yang ergonomis, klasifikasi dan perbandingan antropologis, dan sebagainya. 


"Data antropometri orang Indonesia nantinya bermanfaat bukan hanya untuk pintu kereta, tapi juga tempat duduk, dan lainnya. Bukan hanya untuk perkeretaapian, tapi juga bermanfaat untuk moda yang lainnya sebagai produk dari Indonesia untuk Indonesia," jelas SJP. 

 

Ia mengaku bahwa terdapat juga beberapa keluhan lain terkait jarak antarkereta (headway) tiba di stasiun yang sporadis dan informasi tujuan kereta yang tidak jelas. 


Di dalam kereta pun, pemberitahuan melalui suara ataupun tertulis lewat panel di dalam gerbong tidak tersedia. Pengereman yang masih kasar saat berhenti di stasiun kemungkinan agar kereta berhenti tepat di titik pintu kaca pada peron stasiun. 


Masalah ketidaksejajaran antara pintu kereta dan pintu pembatas di stasiun (platform screen doors/PSD) ini diduga berkaitan dengan perkara integrasi persinyalan dan sistem grade of automation 3 (GoA 3) yang belum mulus. Sistem inilah yang memungkinkan LRT Jabodebek dioperasikan tanpa masinis.

 

'Kami juga mempertanyakan dasar kajian sehingga stasiun LRT didesain tanpa tempat parkir. Seharusnya, LRT sebagai transportasi publik dapat mengurangi masyarakat menggunakan kendaraan pribadi. Masyarakat memarkirkan kendaraan pribadi untuk kemudian menggunakan LRT. Sangat aneh jika malah masyarakat harus parkir di tempat yang jauh dan berjalan kaki ke stasiun LRT sehingga mengurangi kenyamanan mereka," papar SJP. 


Ia menambahkan, seharusnya hal ini tidak perlu terjadi apabila terdapat adanya standardisasi yang baik dan perencanaan yang matang. 


Untuk itu, pihaknya meminta kepada Kemenhub agar lebih serius mengembangkan standardisasi desain perkeretaapian. 


Sebab, dengan standar yang baik,  Kemenhub tidak akan terlalu bergantung pada jasa konsultan proyek, baik domestik maupun asing. 


"Tentu, hal ini akan sangat bermanfaat dalam membantu perencanaan proyek perkeretaapian, sehingga terhindar dari kesalahan-kesalahan serupa di masa yang akan datang," tandas SJP. 




*Respon Ketik dan Keluhkan Masyarakat



FOTO. Inilah ukuran pintu dan kereta LRT Jabodebek yang dikeluhkan terlalu pendek. 




Terpisah, Manager Public Relations Divisi LRT Jabodebek Kuswardojo menjelaskan PT INKA selaku pihak yang membuat kereta LRT Jabodebek hanya menyesuaikan tubuh kereta dengan ukuran rata-rata orang Indonesia. Untuk ukuran tinggi badan misalnya, ukuran rata-ratanya hanya sekitar 160 centimeter saja.


Dia pun meminta maaf apabila ada masyarakat yang merasa kurang nyaman naik LRT Jabodebek.


"Kalau terkait sarana yang ada memang dibuat sama INKA mereka mengukur disesuaikan dengan rata-rata tinggi badan warga negara Indonesia. Mohon maaf memang kan diukur rata-rata tinggi badan WNI, kan 160 centi-an lah," ungkap Kuswardojo dalam siaran tertulisnya. 


Ia juga sempat menemukan kasus di mana warga negara asing (WNA) yang ikut menjajal LRT Jabodebek pada operasional perdana kemarin dan sampai kesulitan masuk kereta.


"Kemarin bahkan ada case juga penumpang warga asing, tingginya sepertinya hampir 2 meter, dia sampai miringkan badannya. Kalau 175 centimeter ke atas memang harus nunduk," kata Kuswardojo.


Pihaknya telah menyampaikan masalah ke INKA selaku pabrikan kereta, barangkali modifikasi bisa dilakukan.


"Kami ya setiap masukan pasti kami sampaikan juga ke INKA, terkait dengan ruang yang sempit itu juga sudah disampaikan ke INKA apakah mungkin dimodifikasi," sebut Kuswardojo.


Hanya saja, Kuswardojo mengatakan melakukan perubahan pada LRT Jabodebek pasti butuh waktu lama. Pasalnya, semua operasi LRT dilakukan dengan satu kesatuan sistem. Apabila ada yang mau diubah, jelas akan membutuhkan waktu lama karena sistem secara keseluruhan harus diubah juga.


"Cuma perlu jadi catatan ini kan LRT itu operasinya by system, jadi ketika mengubah salah satu hal, paling dekat pintu aja, sistemnya harus berubah. Ketika diubah harus semua diubah dan update lagi butuh waktu lama," ungkap Kuswardojo. (R/L..).


TerPopuler