![]() |
| FOTO. Rektor UIN Mataram Prof TGH Masnun Tahir saat menyampaikan sambutannya saat Halaqah Nasional menuju Indonesia Emas 2045 yang berlangsung di UIN Mataram, kemarin. |
MATARAM, BL - Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram menjadi tuan rumah Halaqah Nasional menuju Indonesia Emas 2045, Sabtu 15 November 2025
Tampak, ratusan pimpinan pondok pesantren (Ponpes), akademisi lintas disiplin, dan dua tokoh nasional. Yakni, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Prof Pratikno dan Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar hadir dalam kegiatan tersebut.
Menko PMK Prof. Pratikno, dalam sambutannya secara virtual, menyoroti pentingnya transformasi peran pesantren dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
"Jadi, halaqah ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan nasional menuju pembentukan Ditjen Pesantren, lembaga yang akan memfokuskan diri pada pengelolaan dan fasilitasi pendidikan keagamaan Islam di Indonesia," jelas Pratikno.
Sementara itu, Rektor UIN Mataram, Prof. TGH Masnun Tahir, menegaskan bahwa kegiatan ini menempatkan posisi UIN Mataram yang akan terus berkolaborasi dengan pesantren sebagai strategi inti pembangunan institusi.
Terlebih,kehadiran kampus di tengah masyarakat Lombok dan NTB tidak dapat dipisahkan dari peran besar pesantren sebagai pusat pengkaderan ulama dan cendekiawan selama berabad-abad.
"Kami (UIN Mataram) tidak hanya membuka ruang dialog dengan pesantren, tetapi secara serius merancang instrumen akademik yang memungkinkan integrasi tradisi dan modernitas berjalan secara konstruktif," tegasnya dalam sambutannya, kemarin.
Menurut Prof Masnun, bahwa peresmian Pusat Studi Naskah dan Pesantren (Pustunastren), merupakan salah satu instrumen akademik jangka panjang untuk membangun sinergi tersebut.
Dikatakannya, Pustunastren tidak hanya bertujuan mendigitalisasi dan meneliti naskah klasik. Namun diharapkan, juga akan membangun kerangka ilmiah baru yang memadukan sains modern, turats pesantren, dan kebijakan pendidikan Islam.
"Dengan kehadiran pusat studi ini, UIN Mataram bersiap menjadi laboratorium
keilmuan yang menghubungkan kekayaan khazanah intelektual pesantren dengan kebutuhan transformasi pendidikan di era global," kata Prof Masnun.
Terpisah, Sekretaris Jenderal PBNW, Prof.TGH. Zainal Arifin, menekankan bahwa integrasi kekuatan pesantren dan kampus adalah prasyarat untuk melahirkan generasi yang utuh: cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, dan kokoh secara karakter.
Menurutnya, percepatan perubahan teknologi dan sosial telah menciptakan jurang antara kebutuhan kompetensi masa depan dan kurikulum konvensional yang masih stagnan.
Karena itu, kerja sama antara pesantren dan perguruan tinggi harus diperluas ke ranah riset multidisipliner, pengembangan literatur ilmiah, inovasi kurikulum, hingga program pemberdayaan masyarakat berbasis keilmuan dan kearifan lokal.
Prof Zainal menyebut bahwa, pesantren memiliki modal sosial yang tidak dimiliki sistem pendidikan modern, yakni kedekatan emosional guru–santri, tradisi keikhlasan, serta adab yang membentuk watak dan integritas.
Sebaliknya, kampus memiliki kekuatan metodologis, infrastruktur akademik, serta jaringan ilmiah global yang dapat membantu pesantren merespons perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Maka, sinergi keduanya diyakini akan menghasilkan SDM yang bukan hanya siap bersaing dalam dunia profesional, tetapi juga tetap berakar pada nilai dan identitas keislaman Nusantara," tandasnya. (R/L..).
