![]() |
MATARAM, BL - Sejumlah wisatawan hingga warga dan pelaku wisata, mengeluhkan aktivitas proyek pembangunan revetment atau tanggul di pesisir Pantai Gili Meno, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU).
Itu menyusul, selain menimbulkan suara bising dari mesin yang digunakan dirasa mengganggu kenyaman, hal lainnya menyangkut rusaknya terumbu karang dan biota laut yang menjadi aset paling berharga di perairan Gili Meno.
"Proyek senilai Rp 70 miliar ini merupakan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ini menciptakan pemandangan yang benar-benar merusak mata di gerbang utama pariwisata Gili Meno," ujar.Direktur Jaringan Advokasi Rakyat NTB Adi Ardiansyah pada wartawan, Sabtu 29 November 2025.
Menurutnya, aktivitas pembangunan revetment (bangunan pelindung abrasi) tepat 100 meter dari titik kedatangan wisatawan, memicu kecaman keras dari komunitas peduli lingkungan, pelaku wisata, dan turis asing di salah satu distinasi unggulan di Provinsi NTB tersebut.
Adi memaparkan hasil investigasi di lokasi, bahwa temuan ekskavator beroperasi sekitar terumbu karang yang berpotensi merusak terumbu karang dan lingkungan di sekitar proyek.
"Kami melihat banyak tumpukan beton kini menjulang sekitar 1,5 meter di atas permukaan air, jauh berbeda dengan penampakan terumbu karang alami," katanya.
Adi pun meminta kepada Pemkab Lombok Utara dan Pemprov NTB untuk mengambil tindakan segera untuk menghentikan semua aktivitas proyek yang berpotensi merusak lingkungan lebih jauh.
"Kami desak juga melakukan kajian mendalam dan membuka dokumen perencanaan termasuk kajian Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) UKL (upaya pemantauan lingkungan) dan RPL (rencana pengelolaan lingkungan) kepada publik," jelasnya.
Sementara itu, salah satu wisatawan Australia, Grace Shopia, mengaku kecewa dengan aktivitas pembangunan tanggul di tepi Pantai Gili Meno itu.
"Pekerjaan ini bisa merusak lingkungan dan keindahan alami Gili Meno," ujarnya menyayangkan. (R/L..).
