Menikmati Sensasi Petik Belimbing di Bantaran Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro -->

Menikmati Sensasi Petik Belimbing di Bantaran Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro

Jumat, 12 April 2024, Jumat, April 12, 2024

 

FOTO. Petik buah Belimbing di Agrowisata Belimbing Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro













Aksi kreatif dan inovatif ditunjukkan sejumlah warga Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur (Jatim). Itu menyusul, lahan tidur di sekitar kali Bengawan Solo yang dirintis sejak tahun 1980 lalu, kini telah menampakkan hasilnya. 



FAHRUL MUSTOFA - BOJONEGORO 



Secara swadaya, lahan tidur di bantaran sungai terpanjang di Pulau Jawa seluas 20,4 hektare kini telah disulap menjadi Agrowisata Kebun Belimbing yang membuat lahan itu tumbuh subur menjadi sebuah lahan perkebunan


Tidak sulit untuk mengunjungi objek yang terletak di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro tersebut. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari pusat kota atau sekitar 20 menit berkendara.


Agrowisata yang satu itu terletak di sekitar bantaran Sungai Bengawan Solo dan dekat dengan bendungan gerak. Karena itu, tak heran jika nuansa alam benar-benar tersaji di sana.


Sebagaimana namanya, salah satu sajian utama destinasi yang satu ini adalah pohon dan buah belimbing. Karena itu, begitu melintasi gerbang masuk, pandangan para wisawatan langsung dimanjakan dengan ribuan pohon belimbing yang sudah berbuah dan siap untuk dipetik. 


Rimbunnya pepohonan membuat hawa di sana begitu sejuk dan menyegarkan. Wisatawan bisa mengelilingi area kebun sampai mblenger (puas maksimal). Maklum, kebun mencapai mencapai 20,4 hektare.


Tak hanya sekadar menyaksikan, para pengunjung merasakan sensasi wisata petik belimbing. Menikmati buah berbentuk bintang tersebut dari pohonnya secara langsung. Tentu saja, kesegarannya tak usah ditanyakan lagi.


Namun, jika enggan untuk memetik sendiri, wisatawan bisa membeli belimbing yang sudah dipetik petani. Soal harga, tidak perlu khawatir. Sangat bersahabat bagi kantong.


”Saat agrowisata beroperasi, mereka (petani, Red) biasanya berjejer rapi di jalan-jalan yang dilintasi pengunjung,” kata Ketua Agrowisata Kebun Belimbing, Prio Sulistio, Jumat 12 April 2024. 



FOTO. Suasana rimbunnya kebun Belimbing 


Pengunjung tidak perlu khawatir buah belimbing bakal habis meski dipetik berkali-kali. Sebab, jumlah pohon di objek tersebut begitu banyak. Mencapai 9 ribu pohon. Satu pohon rata-rata bisa menghasilkan buah hingga 30 kilogram.


Tak hanya sajian wisata buah, Agrowisata Belimbing juga layak jadi objek bertamasya. Termasuk, bagi mereka yang berkunjung bersama putra-putrinya. 


Sebab, lanjut Prio, aneka wahana sudah tersedia di sana. Mulai paint ball, ayunan, rumah pohon, dan taman bermain anak yang cukup representatif.


Destinasi tersebut juga patut dicoba sebagai tempat untuk menggelar beragam kegiatan. Mulai meeting hingga hajatan. Sebab, pengelola sudah menyiapkan tempat khusus yang menawarkan nuansa asri panorama Bengawan Solo.


Wisatawan yang hobi fotografi pun patut mendatangi agrowisata itu. Di sana, sejumlah spot sudah tersedia, lengkap dengan ornamennya. Di antaranya, sudut-sudut kebun belimbing atau spot di tepian Bengawan Solo. Ada pula lorong yang sudah dipoles dengan bola warna-warni.


Menariknya, agrowisata ini adalah murni dari inisiatif warga yang mayoritas menjadi petani dan pekebun. Mereka berinisiatif menjadikan lahan seluas 20,4 hektare itu sebagai sentra budi daya tanaman agro. ”Wisata ini berakar dari keinginan warga desa sendiri,” ujar Prio. 


Menurut dia, ikhtiar itu dimulai pada 1980 lalu. Awalnya, mereka masih menanam aneka tanaman. Mulai jagung, kedelai, singkong, hingga palawija lainnya.


Setelah itu, dua warga desa berinisiatif untuk menanam belimbing dengan teknik khusus. Mereka lantas mencontohkannya kepada petani lain. ”Masa itu memang belum menjanjikan,” ucap Prio. 


Ia menuturkan, bahwa setelah empat tahun masa penanaman pertama, tanaman-tanaman tersebut mulai berkembang pesat. Hal itu membuat warga lainnya mengikuti. 


Imbasnya, produksi buah tersebut makin melimpah. ”Masyarakat lantas bermusyawarah. Menjadikan lahan itu sebagai sentra. Tapi, saat itu belum jadi objek wisata,” ungkap Prio.


Petani berusia 50 tahun itu, mendaku bahwa inisiatif menjadikan sentra belimbing tersebut sebagai agrowisata mulai tercetus pada 2010 lalu. 


Petani diajak mempraktikkan secara langsung bagaimana menjadi pedagang dan wisatawan. Namun, waktu itu belum ada yang namanya manajemen pengelolaan wisata. Pemda lantas memfasilitasi.


Pengelolaan secara profesional mulai dilakukan pada 2014. Tahap awal adalah membentuk pengurus. Mereka lantas dimasukkan ke unit Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Abadi. 


Sejumlah wahana baru juga didirikan demi menarik minat wisatawan untuk berkunjung. ”Setelah diuji coba, ternyata animo pengunjung cukup besar. Sampai akhirnya pada 2015 pengelolaannya benar-benar profesional,” ungkapnya.


Kini, tak hanya sebagai objek wisata, destinasi tersebut juga menjadi objek penelitian sejumlah perguruan tinggi terkenal. Tahun ini pula belimbing produk agrowisata tersebut bakal menembus pasar ekspor dengan difasilitasi pemda.


Namun, kesuksesan itu bukanlah garis finis. Para pengelola terus berinovasi. Terbaru, rencananya agrowisata tersebut dikembangkan sebagai wisata edukasi pengolahan sampah. Limbah diolah menjadi barang yang lebih bernilai ekonomis. ”Sehingga hasilnya mampu membangun perekonomian warga desa,” ucap Prio lagi. 


FOTO. Salah satu akses jalan di sudut agrowisata kebun Belimbing yang penataan jalannya sudah ditata dengan sangat baik. 


Sementara itu, salah satu wisatawan asal Sedayu, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Khusnul Khitam mengaku bahwa dirinya datang ke agrowisata ini lantaran tertarik dengan viralnya destinasi wisata ini di kanal media sosial. 


"Jadi, mumpung libur lebaran Idul Fitri, saya mengajak semua keluarga untuk datang menikmati buah Belimbing dengan cara memetik langsung," kata dia. (**).

TerPopuler