Menjaga Napas Kehidupan di Laut Benete -->

Menjaga Napas Kehidupan di Laut Benete

Senin, 24 Agustus 2026, Senin, Agustus 24, 2026

 

FOTO. Inilah terumbu karang yang dilakukan PT PT Amman Mineral melalui program konservasi laut di kawasan perairan Benete, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). 
















Wilayah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) memiliki potensi bahari yang menjanjikan. Sebab, total luasan Terumbu Karang di wilayah KSB mencapai luasan 672,00 hektar. Adapun salah satu wilayahnya. Yakni, Benete ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan yang dikenal sebagai lokasi penyelaman untuk program konservasi laut yang dilakukan oleh PT Amman Mineral. 


Oleh. FAHRUL MUSTOFA – MATARAM 


PASIR putih bercampur hitam di pesisir Benete tampak tenang pada pagi hari. Butirannya lembut, memantulkan cahaya matahari, seolah tak menyimpan kisah apa pun. Padahal, pasir itu adalah jejak kehidupan yang hancur dan terus dilahirkan kembali.


Ia berasal dari pecahan kerangka terumbu karang yang digerus ombak, juga dari sisa pencernaan ikan kakatua—ikan berparuh keras yang memakan alga di karang mati, lalu mengeluarkannya kembali sebagai pasir halus.


Pasir putih bercampur hitam itu, adalah penanda bahwa laut bekerja. Bahwa di bawah permukaannya, ada ekosistem yang bernapas, tumbuh, dan sekaligus rapuh.


Namun, terumbu karang kerap disalahpahami sebagai batu atau tanaman. Ia bukan keduanya. Terumbu karang adalah koloni hewan kecil tak bertulang belakang bernama polip. Masing-masing hidup bersimbiosis dengan alga mikroskopis yang menyuplai energi dan warna.


Dari relasi inilah terbentuk struktur kalsium karbonat yang menjadi fondasi terumbu—sebuah kota bawah laut yang menopang ribuan spesies ikan, moluska, dan organisme lain.


Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim mengatakan, ekosistem terumbu karang memiliki banyak manfaat yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Mengingat, terumbu karang terbentuk dari sekumpulan hewan kecil berbentuk tabung yang bersimbiosis dengan alga. 


“Ekosistem ini tidak hanya memperindah laut tetapi juga menyediakan berbagai manfaat sangat penting bagi kehidupan manusia,” ujarnya pada wartawan, Selasa 11 Agustus 2026.


Menurutnya, total luas terumbu karang di Provinsi NTB mencapai kurang lebih 15.485,14 hektar yang tersebar di Pulau Lombok dan Sumbawa. Rinciannya, Kabupaten Sumbawa seluas 13.460,04 herktar, Kabupaten Lombok Utara (KLU) seluas 761.10 hektar, Kabupaten Lombok Timur seluas 278,00 hektar, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) seluas 124,80 hektar, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) seluas 95,20 hektar dan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) seluas 672,00 hektar. 


“Dan, keberadaan terumbu karang penting bagi ekosistem laut.Untuk itu, kita harus jaga terumbu karang karena menjaga ekosistem terumbu karang, kita sudah melakukan cara instan untuk turut menjaga keanekaragaman hayati di laut,”tegas Muslim.

 

Dia menyebut terumbu karang, memiliki nilai ekologis sebagai penyedia habitat, sampai pengasuhan biota laut. Selanjutnya, juga menjadi pelindung wilayah pantai dan mencegah dampak erosi.


Utamanya, kata Muslim, terumbu karang mampu mengurangi pemanasan global. Di mana, hasil metabolisme terumbu karang berupa kerangka kapur kalsium karbonat C2Co3. Spesies penting yang berkontribusi dalam menyerap rantai karbon di laut. Bisa dikatakan dapat mengurangi pemanasan global,” kata Muslim. 


Sementara itu, Vice President Corporate Communications PT AMMAN, Kartika Octaviana mengatakan, kawasan perairan Teluk Benete yang merupakan lokasi penyelaman adalah wilayah dimana Amman Mineral menempatkan terumbu karang buatan sebagai upaya untuk melakukan program konservasi laut.

 

Sejauh ini, AMMAN telah menjalankan program konservasi terumbu karang di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) selama lebih dari dua dekade. Inisiatif ini dimulai pada tahun 2004 melalui penempatan reef ball di sejumlah kawasan pesisir, seperti Benete, Maluk, Sekongkang, hingga wilayah Gili Balu termasuk Pulau Kenawa.


Tercatat, hingga tahun 2019, sebanyak 2.017 unit reef ball telah ditempatkan dan berkontribusi terhadap terbentuknya sekitar 10.189 m² terumbu karang hidup. Di mana, upaya konservasi ini kemudian diperkuat kembali melalui Program TransformaSea Gili Balu yang berlangsung sejak 2023 hingga 2026. 


”Dalam program tersebut, AMMAN bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk PKSPL IPB, untuk mendukung rehabilitasi ekosistem laut sekaligus pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di kawasan Gili Balu,” katanya dalam pesan tertulisnya, Selasa 11 Agustus 2026. 


Menurut Kartika, hingga tahun 2025, program ini telah menambahkan 54 modul terumbu karang buatan yang ditempatkan secara acak pada area rehabilitasi seluas sekitar 0,41 hektare (4.125 m²) di perairan Pulau Kenawa. Selain mendukung pemulihan ekosistem laut, pendampingan yang dilakukan AMMAN di kawasan Gili Balu juga turut mendorong peningkatan kunjungan wisatawan dan pengembangan destinasi wisata berbasis konservasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.


“Dari, hasil pemantauan menunjukkan bahwa terumbu karang buatan telah dijadikan pemijahan, penempelan organisme laut, serta tempat berlindung dan mencari makan dari spesies-spesies ikan,” tegas Kartika.



Dia membenarkan bahwa Teluk Benete dikenal sebagai lokasi penyelaman. Yakni,  wilayah dimana Amman Mineral menempatkan terumbu karang buatan sebagai upaya untuk melakukan program konservasi laut.


"Di sekitar Perairan Benete terdapat pelabuhan pengapalan khusus dan pelabuhan umum yang melayani para karyawan maupun penumpang umum. Penempatan terumbu karang buatan ini di perairan diharapkan membantu kelestarian terumbu karang yang ada di wilayah perairan,” jelas Kartika.


Data United Nations Environment Programme-World Conservation Monitoring Center (UNEP-WCMC) 2006, mengeluarkan hitungan nilai terumbu karang bisa sampai US$100.000-US$600.000 per km pertahun atau Rp9 miliar per tahun. Nilai ini, dapat terjadi kalau terumbu karang terlindungi hingga memberikan nilai bagi perikanan, wisata, dan lingkungan hidup.


Terpisah, Kepala Balai Sumber Daya Kelautan dan Perikanan pada Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutan NTB) Abdul Wahab mengatakan, pemerintah rutin melakukan edukasi kepada masyarakat sebagai langkah mitigasi mencegah kerusakan ekosistem di laut.


Setiap minggunya, pihaknya rutin melakukan patroli untuk memantau aktivitas masyarakat di laut khususnya di kawasan konservasi, terutama kegiatan yang mengancam keberlangsungan hidup terumbu karang sebagai tempat berkembang biaknya keanekaragaman bahari.


“Kami di balai itu melakukan patroli, biasanya satu minggu sekali kita lakukan, untuk mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat kita yang berada di sekitar wilayah konservasi itu,” ujarnya, Selasa (11/8) kemarin. 


Menurut Wahab, secara umum kondisi kelautan di NTB masih dalam kondisi baik, hanya saja ada beberapa titik yang mengalami kerusakan terutama akibat abrasi. Berdasarkan data forum ilmiah pengelolaan perikanan berkelanjutan (FIP2B), perairan laut NTB memiliki luas 29 ribu kilometer persegi yang kaya akan keanekaragaman hayati di antaranya ekosistem terumbu karang seluas 76.420 hektare.


Di dalamnya hidup 700 spesies ikan terumbu karang dan 69 genus karang keras, potensi ini memiliki ekonomis pada sektor perikanan dan pariwisata. Sehingga pemerintah membentuk 17 kawasan konservasi di NTB.


Dinas Kelautan dan Perikanan NTB telah melakukan upaya-upaya seperti sosialisasi jenis ikan yang dilindungi, peningkatan peran masyarakat kawasan konservasi, pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, bantuan sarana dan prasarana, pengembangan jejaring kawasan konservasi, penguatan pengawasan, dan lain sebagainya.


Hal ini, mendukung pencapaian program nasional penetapan kawasan konservasi seluas 20 juta hektar pada tahun 2020 dan 30 juta hektar pada tahun 2030. Selanjutnya, komitmen itu ditunjukkan dengan mengalokasikan 341.641,45 ha wilayah perairan NTB sebagai kawasan konservasi daerah (KKP). 


Ada 137.865,24 Ha yang sudah di tetapkan seperti TWP Gili Matra di Kabupaten Lombok Utara, TWAL Pulau Moyo dan TWP Pulau Liang & Ngali di Kabupaten Sumbawa, TWAL Pulau Satonda dan SAP Teluk Cempi di Kabupaten Dompu, TWP Gili Sulat dan Lawang di Lombok Timur, TWP Gita Nada di Kabupaten Lombok Barat, TWP Gili Banta di Kabupaten Bima dan 113.371,30 Ha masih dalam proses yang tersebar di kawasan TWP Teluk Bumbang di Kabupaten Lombok Tengah, TPK Gili Balu, TPK Pulau Kramat Bedil dan Temudong, TP Penyu Tatar Sepang-Lunyuk, SAP Pulau Lipan dan Pulau Rakit yang berada di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat.


“Memang, dalam implementasinya, memang ditemukan kendala-kendala seperti terbatasnya kualitas SDM, destructive dan illegal fishing yang masih marak, kurangnya penggunaan iptek dalam pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil, akses permodalan, dan lain sebagainya,” tegas Wahab. 


Dia menambahkan bahwa target keberhasilan konservasi diukur melalui terjaganya kelestarian terumbu karang, mangrove, biota laut langka terjaga ekosistemnya, serta produksi ikan yang terjaga keberlanjutannya.


“Agar upaya mensukseskan konservasi ini bisa terlaksana efektif, diperlukan kolaborasi dan sinergi dari seluruh stakeholder terkait,” tandas Abdul Wahab. (**).

TerPopuler